Senin, 22 Februari 2010

doktor (Mondok di kantor

Kemajuan teknologi memudahkan segala aktifitas manusia. Segala aktifitas dari rumah tangga, pribadi, bisnis, politik dan segala yang sepele sekalipun dapat dikerjakan secara cepat dalam satu ruangan tanpa harus berpindah-pindah. Keberkahan teknologi pada hajat manusia menyebabkan perubahan pola hidup dan kebiasaan masyarakat melek teknologi, salah satunya adalah kebiasaan "Mondok di kantor" (doktor).

Secara garis besar, siapapun orang akan betah berlama lama di kantor kecuali penganten baru dan Office Boy. betapa tidak, Ruangan ber AC, komputer yang sanggup melayani keinginan para pengguna (user) nya - bisa karaoke, main game, nonton film, chatting, transaksi bisnis perbankan, cari jodoh, dan apa saja yang kita inginkan ada di sana- dari sajadah sampai haram jadah.

Kantor masa kini tak ubahnya ruangan serba guna dan serba ada. Bermacam macam keperluan telah tersedia untuk segala type manusia dewasa. Terutama untuk pelarian orang yang rumah tangganya sedang dilanda badai derita, daripada mencari tempat singgah dan pelarian yang beresiko dan banyak biaya seperti diskotek, bioskop dan tempat hiburan lainnya lebih baik nginep di kantor, disamping gratis juga menghemat biaya.

Oleh karena itu jangan heran bila kita sering melihat gedung perkantoran baik kantor pemerintah, LSM, dan swasta nampak masih ada aktifitas padahal sudah larut malam. Bukan tidak mungkin di sana banyak orang yang mengalami badai rumah tangga. (oh.. Nasib... rumahku neraka ku, kantorku syurgaku.)

Di saat anomali ekonomi dan politik yang sulit terkendali maka mondok di kantor adalah rejeki yang berlimpah untuk karyawan yang berpenghasilan pas pasan. Karyawan bisa menggunakan telephon sepuasnya, fasilitas internet, bahkan air bersih, (karna rekening air bersih semakin mahal sering mati). Oleh karena itu "doktor" adalah alternatif menghemat pengeluaran hidup rumah tangga.

Bagi mereka yang memiliki usaha sampingan (job side) fasilitas kantor yaitu telephon, mesin faxmili, seperangkat komputer, dan jaringan internet sangat mendukung sekali maka sejak dulu sudah banyak orang mendirikan kantor dalam kantor. (kalau tak bisa korupsi anggaran maka paling tidak bisa korupsi pulsa). "Kan.. lumayan dari pada lumanyun".

Kebiasaan "doktor" yang melanda para karyawan kita baik negeri maupun swasta harus menjadi perhatian para pemangku kekuasaan untuk membangun perumaham berdampingan kantor. artinya setiap kantor yang pemerintah yang berhubungan dengan pelayanan maayarakat seperti kantor dinas pemerintah daerah harus disediakan rumah dinas yang berlokasi dalam area kantor tersebut. Banyak sekali keuntungan dari kebijakan rumah dinas tersebut.

Pertama : pelayanan masyarakat semakin cepat dan maksimal karena tidak banyak waktu terbuang akibat jarak tempuh perjalanan dari rumah ke Kantor yang selalu macet.
Kedua hemat biaya, waktu dan tenaga sehingga tidak ada alasan datang terlambat sekaligus mengurangi polusi udara karena mobilitas kendaraan berkurang pada jam kantor.
Ketiga : hubungan sosial kekeluargaan sesama staf kantor semakin akrab. Karena tetangga kita adalah sahabat kita di kantor, atau pimpinan kita juga di kantor.
Keempat: monitoring infentaris kantor selalu terpantau. salah satu modus pencurian yang hampir dianggap halal adalah mengambil benda inventaris kantor untuk keperluan pribadi dari benda yang berharga tinggi seperti kendaraan operaasional sampai benda yang tak seberapa nilainya seperti kursi dan meja kantor inventaris. bahkan barang barang yang bersifat remeh temeh seperti tempat sampah, gelas, sendok, masih saja ada orang yang senang membawa pulang. Seperti ada kebanggaan dan kepuasan tersendiri kalau suatu rumah terpajang barang curian dari kantor atau tempat kerja, seolah olah tidak sah seseorang menjadi pegawai suatu perusahaan atau instansi pemerintah kalau belum memiliki benda yang berhubungan dengan tempat kerjannya.

"doktor" menurut hukum islam.

Umar bin khattab disaat sedang konsentrasi di kantor menjalankan tugas sebagai kholifah tiba-tiba kedatangan putranya yang akan menyampaikan sesuatu.
"ada keperluan apa kau datang ke sini nak.?" tanya umar. "ingin bicara soal keluarga ayah..!" jawab putranya. tanpa bicara lagi umar langsung memadamkan lampu penerang di ruangan tersebut. "mengapa lampunya dipadamkan.?" tanya putranya. "karena pembicaraan kita adalah masalah pribadi maka haram kalau kita menggunakan lampu ini untuk membicarakan masalah pribadi. Bukankah lampu ini milik rakyat untuk keperluan rakyat juga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar